Perjuangkan Airlangga Hartarto, Golkar Buka Opsi Poros Keempat

Partai Golkar akan menjajaki pembentukan poros keempat koalisi untuk menghadapi Pemilu Presiden 2024 bersama Partai Amanat Nasional. Langkah tersebut akan diambil jika Partai Golkar tak berhasil mengantarkan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto sebagai bakal calon wakil presiden dari koalisi besar yang tengah digagas partai-partai politik dari Koalisi Indonesia Bersatu dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya.

Sejak awal Juni lalu, Partai Golkar sudah membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama Partai Aamanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, belakangan PPP keluar dari KIB dan memutuskan untuk bekerja sama dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) guna mengusung Ganjar Pranowo sebagai bakal capres.

Dalam perjalanannya muncul pula gagasan untuk membentuk koalisi besar yang merupakan gabungan dari KIB dengan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang terdiri dari Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dua parpol KKIR telah sepaham untuk mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai bakal capres. Namun, hingga kini, KKIR belum juga menetapkan sosok bakal cawapres pendamping Prabowo.

Di sisi lain, Partai Golkar terus memperjuangkan agar Airlangga Hartarto maju dalam kontestasi Pilpres 2024. Begitu pula PAN terus mendorong agar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir masuk bursa bakal cawapres.

Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Presiden Partai Golkar Nusron Wahid, saat ditemui di Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (14/6/2023), mengatakan, melihat dinamika politik saat ini, integrasi antara KIB dan KKIR masih sangat relevan. Menurut dia, jika kedua koalisi itu bergabung, wacana terbentuknya koalisi besar pun akan semakin nyata.

”Kan, sudah ada dua koalisi, yaitu koalisi KKIR sama KIB. Ya, nanti kalau dia melebur jadi satu, kan, nama koalisinya bisa dirembuk. Pada prinsipnya, kerja sama itu dilakukan tidak hanya di dalam persiapan pilpres, tetapi juga mengawal pemerintahan nanti di dalam Parlemen. Dan, itu malah jauh lebih bagus,” ujarnya.

Apabila koalisi besar terwujud, lanjut Nusron, partai-partai politik tinggal membahas pasangan capres dan cawapres yang akan diusung. KKIR sudah menetapkan Prabowo sebagai bakal capres sehingga seharusnya posisi bakal cawapres diberikan kepada KIB.

”Supaya ini (koalisi) bisa melebur, kan, kami juga harus ada yang mau mengalah. Oke, kalau begitu presidennya dari KKIR, tetapi wakil presidennya dari KIB,” ujarnya.

Siapa sosok yang akan ditawarkan sebagai bakal cawapres akan diputuskan bersama oleh KIB. Namun, sesuai dengan hasil Munas 2019, Golkar akan mendorong Airlangga untuk maju dalam pilpres. Oleh karena itu, menurut Nusron, Airlangga layak untuk dipilih sebagai bakal cawapres Prabowo jika koalisi besar KIB dan KKIR terwujud.

”Kenapa? Karena Airlangga merupakan Ketua Umum Golkar. Dalam KIB, Golkar juga partai paling besar, wajar dong dan relevan begitu. Ini (koalisi besar) kalau jadi bagus. Kenapa? Karena Gerindra secara suara pemenang nomor tiga, (Golkar) ini nomor dua. Di dalam KKIR, Gerindra adalah partai paling besar, lebih besar dari PKB. Dalam KIB, Golkar adalah yang lebih besar daripada PAN. Saya kira fair,” ucapnya.

Pada prinsipnya, lanjut Nusron, Golkar akan berjuang memajukan Airlangga sebagai bakal cawapres dari Prabowo. Jika proposal itu ditolak, Golkar akan mencari opsi lain dengan membentuk poros keempat bersama PAN.

”Jadi, saya sedang memprioritaskan untuk terjadinya koalisi besar. Tetapi, kan, tidak menutup ada opsi-opsi lain. Namanya politik, kan, ada probability, kan. Ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi,” katanya.

Saat ini setidaknya ada tiga poros koalisi yang sudah terbentuk. Pertama, koalisi PDI-P, PPP, Partai Perindo, dan Partai Hanura untuk mengusung Ganjar Pranowo sebagai bakal capres. Poros kedua adalah KKIR yang sudah sepakat mengusung Prabowo sebagai bakal capres. Kemudian poros ketiga ialah Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang terdiri dari Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sudah menetapkan Anies Rasyid Baswedan sebagai bakal capres.

Tawarkan Erick Thohir

Ditemui secara terpisah, Wakil Ketua Umum PAN Yandri Susanto mengatakan, partainya akan terus berusaha untuk menawarkan Erick Thohir sebagai bakal cawapres kepada sejumlah poros koalisi. Nama Erick juga sudah disodorkan oleh PAN kepada PDI-P dan Gerindra.

”Jadi, semua tetap komunikasi. Belum mengerucut. Kan, antara Ganjar dan Prabowo sama-sama belum (mempunyai bakal cawapres). Makanya, semua kartunya masih hidup. Jadi, Ganjar masih berpeluang. Prabowo juga masih berpeluang,” ujarnya.

Meski bukan kader, Erick disebut memiliki kedekatan tersendiri dengan PAN. Menurut Yandri, rekam jejak dan kinerja Erick di Kementerian BUMN dan PSSI juga menjadi keunggulan. Tim nasional sepak bola Indonesia berhasil meraih medali emas di SEA Games 2023 Kamboja. Penataan BUMN juga dinilai semakin baik.

”Jadi, saya sampaikan dari kemarin, kalau mau Prabowo atau Ganjar menang, ambil Erick gitu lho,” kata Yandri.

Sumber : kompas.id